Mar 19 2007
Penulis TI dan HaKI
saya sendiri sejak dulu setuju dengan penegakan HAKI. Teman-teman saya di Elex Media dan juga penerbit-penerbit kecil pun tetap saja sama. Bahkan, ada yang secara tegas ia harus menganjurkan di kantornya menggunakan software legal. Kalau ada yang gratis, kata dia, lebih baik pilih yang gratisan saja. Walhasil, software non gratisan legal yang terinstall di komputer miliknya hanyalah MS Windows XP yang ia dapat begitu ia membeli komputer itu (sudah terinstall di dalamnya).sedang untuk lainnya, misalnya mengetik, ia menggunakan openoffice. untuk mendesain, ia menggunakan GIMP yang katanya hasilnya bisa sebagus Adobe. Saya sendiri belum pernah membuktikan apakah GIMP setara dengan Photoshop.lantas, bagaimana dengan penulis buku2 komputer? Saya sendiri kurang tahu apakah 100% penulis buku-buku komputer memiliki software legal. Tapi saya juga tidak mau gembar-gembor ke media massa bahwa penulis buku komputer wajib memiliki software legal 100%, mulai dari Windows XP sampai ke software ringan seperti HyperSnap, misalnya (untuk capture gambar).
Mengapa?
Pasti, tidak ada yang kuat beli Windows XP, MS Office, Adobe, Macromedia, dan lain sebagainya sekaligus. Apalagi, usia software-software itu sangat singkat.Kalau sudah begini, ada beberapa skenario yang mesti dijalankan. Antara lain:
1. membeli software asli secara bertahap.
Lewat skenario ini, pakai software bajakan untuk membuat proyek 3-4 buku terlebih dulu. Setelah mendapatkan royalti yang cukup, belilah software-software asli secara bertahap.Kemudian, tulislah buku-buku Anda menggunakan software-software asli itu. Kalau sudah dapat uang lagi, belilah yang software lain yang asli sampai semuanya sempurna. Ingat, untuk membeli software yang berjuta-juta harganya, Anda tidak bisa hidup dari 1 buku komputer saja.Apakah hal ini melanggar nurani? Asal hati kita tulus dan punya komitmen untuk membeli yang asli, tentunya masalah ini tidak perlu perlu membawa korban perasaan yang mendalam. Toh, dengan menulis buku komputer, vendor software tersebut akan terbantu dan mereka akan terbantu lagi kalau Anda membeli yang asli, khan...?
2. menggunakan software open source atau gratisan
skenario ini bisa diterapkan kalau pasar buku komputer di tanah air ini mendukung. Misalnya saja, Anda ingin mengulas dunia desain grafis. Alih-alih membeli Photoshop, Anda memutuskan untuk mengulas GIMP yang bekerja di mode Linux. Masalahnya, apakah GIMP itu bisa diterima pasar? Kalau tidak laku bagaimana? Hanya ada sedikit software gratisan yang laku. Salah satunya OpenOffice dan kalau bicara tentang script, sebut saja PHP yang lebih unggul dibanding ASP.Skenario ini kurang bisa bekerja dengan baik kalau software gratisan yang Anda pakai tidak laku jika dibukukan. Tapi, ini legal tho...
3. menggunakan komputer "pihak lain"
kalau memang ngotot ingin menulis buku komputer tapi nggak ingin hati nuraninya serba bersalah karena komputer kita pakai software bajakan, pakailah komputer "pihak lain". Yang disebut pihak lain di sini adalah rental komputer, warnet, atau teman kita yang sudah 100% legal softwarenya.Cara ini aman untuk hati nurani. Tapi, Anda juga harus capek-capek bolak-balik ke tetangga untuk akses software legal.Yang penting, kata mas Edy Zaqeus dalam e-mail ini, "orang sukses kelebihan satu cara". Sekarang, cara mana yang Anda tempuh, terserah Anda sendiri...kalau hanya karena masalah bajakan seperti itu kemudian jadi minder, itu sama saja kita nggak mau jadi pengusaha hanya karena kita membaca di koran-koran banyak pengusaha suka korupsi, nilep pajak, berbuat aneh-aneh termasuk kawin cerai, dan sebagainya. Yang penting, kita punya komitmen dan caranya saja...thanks,
Gregorius Agung


Saya coba berkomentar, sekalipun saya bukan penulis TI>
Saya kira, isu software bajakan sudah ada sejak dulu ya. mau pake yg asli atau bajakan, tampaknya beberapa pengguna komputer masih sangat membutuhkan panduan2 berupa buku TI/program komputer yg aplikabel. Saya kira, Bung Gregorius Agung yg sangat sukses di penulisan buku2 semacam ini, bisa saja bersikap sama; ciut hati tidak jadi menulis buku. Tapi dia bersikap lain. Tetap menulis, dan terbukti sukses. Bung Greg bisa banyak cerita soal ini… Dalam pandangan saya, sebagai penulis pemula kita tidak boleh gampang menyerah. Yang penting berkarya dulu, biarkan pasar yang menilai. Kalau >belum berkarya sudah takut atau mental dilemahkan oleh situasi di luar, tampaknya kita tidak akan pernah berkarya sama sekali.
Ada satu kata mutiara dr Andrie Wongso yg saya ingat betul, yg juga memacu saya utk mengusir semua penyakit excusitis; “Orang sukses kelebihan satu cara, orang gagal kelebihan satu alasan.” Artinya, orang sukses selalu kelebihan satu cara. Setiap ada persoalan, dia selalu bisa menemukan solusi, dan setelah solusi ketemu, tetap saja masih ada solusi lainnya. Sebaliknya, orang-orang gagal, selalu saja kelebihan satu alasan (biasanya menyalahkan situasi di luar dirinya). sudah dapat satu alasan, masih saja ada yang lain, ada lagi, ada lagi… that’s why we call them the loser…
So, tetap semangat. Peluang masih banyak sekali. Tinggal kita jeli dan kreatif saja dalam memanfaatkannya. Nggak percaya? Tanya Bung Greg he..he..he…
salam best seller
Edy Zaqeus
www.pembelajar.com
yup, kadang kalo nulis buku tentang komputer hal tersebut cukup mengusik
3 (buku) terakhir saya karena menggunakan aplikasi terbaru sesuai permintaan penerbit (Andi Offset) dibikin dengan versi Beta yg di legalkan
yg bikin agak “mumet” usia dari software2 tersebut yang lumayan pendek itu tadi
Bicara tentang HAKI & software bajakan memang tidak pernah ada kepastian. Idealnya sih software harus asli, tapi karena kondisi ekonomi masyarakat indonesia sangat rendah dibanding amerika (pembuat software) maka terjadilah penjajahan di negeri kita oleh amerika. Apalagi ada ancaman razia microsoft yang bekerja sama dengan interpol dan polisi lokal, maka masyarakat pengguna software ilegal semakin khawatir. Sebelum mengatur masyarakat (termasuk penulis) agar menggunakan software asli, coba lihat presiden, menteri, DPR, para pejabat dan penegak hukum kita, apakah mereka 100% menggunakan software asli? Jika mereka dan keluarganya masih menggunakan software ilegal, mustahil masyarakat indonesia dan penulisnya mau menggunakan software asli. Sebelum mereka masih seperti itu, maka masyarakatpun tentu akan meniru pemimpinnya bukan. Oleh karena itu pakailah software ilegal sampai pemerintahnya memberi contoh dan teladan. Apakah anda sudah 100% pemakai software original? Saya yakin anda sama seperti kita semua: Pembajak! Jujur OK!